Friday, August 29, 2014

10 Pengusaha Muda Kreatif Indonesia (I)

Menjadi seorang enterpreneur dewasa ini telah menjadi tren positif bagi sebagian besar anak muda di Indonesia. Ada sedikit pergeseran paradigma dimana pekerjaan favorit orang orang tua dahulu sedikit demi sedikit mulai di tinggalkan. Silahkan di tanyakan kepada orang orang tua kalian, apakah di generasi mereka, banyak anak muda yang membuka usaha sendiri seperti sekarang? pasti jawabannya "sedikit". Di tahun 70-an atau 80-an profesi yang paling favorit adalah menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai swasta.

Menjadi enterpreneur menurut saya pribadi adalah sebuah kemerdekaan, karena dengan menjadi pengusaha kita bisa bebas mengeksplorasi apa yang menjadi hobi kita. Selain itu, dengan menjadi pengusaha kita juga terlepas dari belenggu aturan kantor yang membunuh kreativitas dan merampas hak kita untuk hidup merdeka dan berdaulat.. :D. Penghasilan yang di dapatkan oleh seorang pengusaha pun sangat menjanjikan, seorang pengusaha dapat menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah perbulannya. Jutaan kali lipat dibanding bekerja di kantor.

Berikut ada profil sepuluh pengusaha muda inspiratif yang berusia di bawah 30 tahun. Profil kesepuluh pengusaha muda ini saya kutip dari buku berjudul 101 Young CEO tulisan dari Ilman Akbar. Aslinya dalam buku ini ada profil 101 pengusaha, namun saya rangkum saja menjadi sepulu. Semoga dengan profil kesepuluh pengusaha muda ini, kita semua bisa terinspirasi dan mengikuti jejak sukses mereka.


1. Olive Avianca Savitri (Dekorator Kamar Kos Mahasiswa).

Bagi Olive yang berasal dari Jakarta dan saat itu kuliah di jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung, kamar kos kosan adalah rumah kedua bagi mahasiswa perantauan atau yang kampusnya jauh dari rumah. Ia ingin kamar kos nya nyaman seperti di rumah dan sesuai dengan selera anak mudanya. Banyaknya kampus di Bandung dengan sedikitnya pernak pernik interior khusus anak muda di pasar membuat Olive menemukan satu peluang emas untuk berbisnis.

Suatu waktu di tahun 2007, wanita kelahiran 1982 ini merealisasikan idenya. Ia survei bahan baku, mencari bahan bahan unik untuk dijadikan karpet, seprei, bed cover dll. Olive juga mensurvei penjahit dengan cara menjahit satu item ke beberapa penjahit. Penjahit yang hasilnya bagus diajak kerjasama. Modal awal Olive berasal dari pinjaman orang tua sebesar Rp 15 juta.

Bisnis yang baru di rintisnya diberi nama Sliv Bedroom, produknya unik dan khas berkarakter anak muda. Karpetnya tidak selalu berbentuk persegi panjang, ada bentu hati, oval, bulat dsb. Selain itu juga ada pernak pernik lucu dan unik berupa seperei, sarung bantal, sarung CD, lampu dan cermin. 

Setelah memiliki stok barang, Olive mulai berpromosi. Ia menyewa kamar tamu di rumah kosnya yang kosong seharga Rp 400 ribu. Cara awal promosi adalah dengan menyebarkan brosur di daerah Dago setiap malam Minggu, juga mengetuk rumah rumah kos satu persatu untuk membagikan brosurnya. Namun, langkah tersebut ternyata tidak meningkatkan penjualan secara berarti. Tokonya tetap sepi, putar otak, ia mencoba strategi lain yaitu berpromosi melalui majalah. Olive mengirimkan sampel produknya ke majalah majalah remaja yang sesuai denga target pasarnya. Beberapa waktu, toko Olive mulai ramai.

Setelah bisnisnya stabil, Olive membuat www.silverbedroom.com untuk memperluas pasar. Disana Olive menyediakan jasa konsultasi interior gratis berdasarkan insight bahwa konsumen yang datang ke website tersebut masih bingung ingin mendekor kamarnya seperti apa. Konsultasi gratis ini berhasil mendongkrak omzet, karena konsumen jadi tertarik membeli barang yang ditawarkan di konsep dari Silver Bedroom. Sekarang, produknya sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Sukses menggarap pasar mahasiswa, tahun 2009 Olive pun menjadi juara 1 lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina. 


2. Royas Amri Bestian (Mengubah Hobi Gambar Menjadi Bisnis).

Anak muda kelahiran Bekasi, 7 Juni 1982 ini memiliki hobi menggambar sejak kecil. Ia telah memanfaatkan hobinya tersebut untuk mendapatkan tambahan uang saku. Saat SD, ia suka membuat kartu nama yang digambar dengan spidol dan cat poster kemudian dijual kepada teman temannya. 

Saat kuliah di S1 Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya, Royas bersama kakaknya membuat kaos bertema budaya Madura (orang tua mereka berasal dari Madura) dengan merk Alapola, kosepnya seperti Dagadu di Jogja atau Joger dari Bali. Lulus kuliah pada 2005, ia bergabung dengan dua orang kakaknya dan satu orang temannya untuk membuat perusahaan di bidang komunikasi visual, bernama SignDesign. Nama ini terinspirasi dari logat bicara orang Madura yang suka mengulang ulang, seperti "te-sate". Sambil mengembangkan SignDesign, Royas juga bekerja di perusahaan lain sebagai art director untuk menggali ilmu dan pengetahuan, setelah empat tahun ia kemudian resign dan fokus di SignDesign.

Pada awalnya, Royas dan ketiga partner nya melakukan semuanya sendiri, seperti saat menempel nama sales satu per satu di 3000 buah buku atau mencetak seribu buah pin. Pengalaman pahit pernah mencetak ulang ribuan brosur dan buku karena kesalahan menjadi pelajaran berharga. Untuk mempromosikan jasanya, mereka melakukan 'jemput bola' melalui pameran, anehnya, pameran yang mereka ikuti bukanlah pameran desain melainkan pameran haji dan umroh karena melihat bahwa target pasar disana membutuhkan jasanya. SignDesign pun mendapatkan klien satu biro haji dan umroh yang mempercayakan desain company profile buku umroh anak dan multimedia.

Pada tahun 2009, omzet SignDesign mencapai Rp 1,2 miliar per tahun. Royas pun diganjar sebagai Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri tahun 2009.


3. Agit Bambang Suswanto (Sepatu Kulit 100% Indonesia).

Saat masih berseragam abu abu, Agit berjualan pin dan menjaga warnet. Agit juga pernah membuat kaus untuk dijual ke distro distro, namun hanya bertahan empat bulan. Tidak patah semangat, Agit lalu belajar desain secara otodidak saat kuliah, ia juga bekerja sambilan sebagai desainer web dan majalah di Bandung. 

Bersama dua orang temannya, selanjutnya Agit membuka bisnis penjualan wafel. Sayangnya partner Agit mengundurkan diri baru enam bulan berjualan. Semua pengalaman ini sangat berharga bagi Agit. Tahun 2009, Agit yang memiliki hobi mengoleksi sepatu ingin membeli sepatu kulit. Ia tidak sanggup membeli sepatu kulit luar negeri karena harganya mahal, sedangkan di Indonesia belum ada sepatu kulit premium yang berkualitas. Agit berpikir, sebenarnya Indonesia bisa punya merk sepatu kulit dengan kualitas yang sama.

Berkat kemampuan desain dan hobi koleksi sepatu, Agit membuat sendiri tiga buah sepatu kulit dan menjualnya lewat forum online Kaskus. Tak disangka, sepatu sepatu tersebut laris manis. Langkah berikutnya ia semakin serius dengan bisnis sepatu dengan membuat www.amblefootwear.com. Sukses di dunia maya, Agit kemudian berjualan di dunia nyata dengan menargetkan berrbagai toko sepatu di Bandung. Tebukti dalam seminggu sepatunya habis dan toko toko tersebut harus re-stock. Bulan berikutnya menyusul Surabaya, Yogyakarta dan Balikpapan. Amble bahkan terjual sampai ke Malaysia, Singapura dan Australia. Namun omzetnya tidak tentu karena terjual secara eceran bukan grosiran.

Agit membuktikan bahwa sepatu kulit buatan Indonesia bisa setara dengan sepatu buatan luar negeri dengan tulisan Made with Proud in Indonesia pada sepatunya. Memang Agit menggunakan 100 kulit dari perajin perajin kulit lokal dan dikerjakan di Indonesia pula. Kini 400-500 pasang sepatu dihasilkannya tiap bulan, dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan berhasil didapatkannya.


4. Diana Rikasari (Fashion Blogger)

Remaja kelahiran tahun 1994 ini pertama kali menulis blog tahun 2007 karena ikut ikutan temannya. Sejak tahun 2007 ngeblog memang sedang mewabah di Indonesia. Awalnya Diana hanya menjadikan blog nya sebagai tempat curhat biasa tentang kehidupan sehari hari, tapi secara alami ia jadi membahas tentang fashion. Tanpa bosan, hampir setiap hari Diana mengupdate blognya, karena itulah media untuk mengekspresikan dirinya, idenya dan passion nya dengan apa adanya.

Kegemarannya berada di blog direspon positif oleh para blogger dan pengguna internet lainnya. Pembaca setia pun berdatangan karena memang isi blognya sangat personal dan apa adanya, seperti berbicara dengan teman saja. Pengunjung blog Diana mencapai 10.000 orang setiap harinya, total dari 2007 hingga 2013 sudah ada 11 juta orang yang berkunjung kesana.

Dari blog nya, Diana memberikan inspirasi fashion yang kreatif, unik dan lucu. Oleh karena itu, kesempatan dari industri datang kepada Diana. Ia dipercaya menjadi fashion stylist untuk sejumlah majalah, film dan bekerja sama dengan pengusaha clothing lokal. Tahun 2011 ia dinobatkan menjadi digital ambassador dari sebuah produk kecantikan untuk remaja karena telah sukses menginspirasi para remaja untuk mengekspresikan dirinya melalui media digital dengan kreatif.

Pada Desember 2010, Diana merintis bisnisnya sendiri, Ia merintis sebuah line alas kaki khusus wanita seperti sepatu, wedges dan sandal kasual bernama Up (www.iwerup.com). Di Up, Diana sendiri yang merancang alas alas sepatunya. Produksi spatu dilakukan bedasakan pesanan, jadi pelanggan yang membeli harus menunggu 14 hari sampai sepatunya sampai. Hal ini membuat proses produksi menjadi efisien karena tidak ada barang sisa yang tidak terserap  pasar seperti kalau membuat massal.

Diana hanya berpromosi melalui website, instagram dan jejaring sosial saja, karena internet sangat kuat membentuk word of mouth. Pemasaran konvensional seperti promosi lewat majalah dan sponsor tetap dilakukan, tapi tidak dijadikan fokus. Basis komunitas Diana memang sudah ada di internet (blog dan twitter), sehingga ia memilih untuk fokus disana. Daripada mengeluarkan uang banyak untuk membuka toko, ia lebih memilih meningkatkan inovasi dan pelayanannya kepada pelanggannya.


5. Nanida Jenahara Nasution (Hijab Designer, pendiri Hijabers Community).

Beberapa tahun teakhir, jilbab atau hijab menjadi sesuatu yang kembali ngetren di Indonesia. Tadinya model jilbab itu biasa saja, sekarang kita bisa melihat semakin banyak wanita mengenakan pakaian muslimah yang tertutup sopan dengan warna dan model yang sangat fashionable. Semakin populernya hijab di industri fashion Indonesia salah satunya di pelopori oleh hijab designer Nanida Jenahara Nasution bersama komunitas Hijabers Community.

Jehan, panggilan akrabnya, mendirikan Hijabers Community (HC) pada 27 November 2010 yang memiliki berbagai kegiatan bagi muslimah dari pengajian, sharing, kegiatan sosial hingga hijab style. Selain itu, HC ingin membuka wawasan banyak orang mengenai hijab karena selama ini banyak yang menganggap hijab itu kuno dan membatasi penggunanya.

Wanita kelahiran 27 Agustus 198 ini mewarisi darah desain pakaian dari bundanya, Ida Royani, yang juga merupakan artis terkenal. Sejak kecil, Jehan dikenalkan dengan berbagai jenis bahan kain, model pakaian dan diajak ke penjahit oleh bundanya. Desainer pakaian pun menjadi cita citanya. Lulus SMA, Jehan memulai cita citanya dengan mengambil kursus di Patter Design Esmond, lalu belajar di Susan BudiharjoFashion Design School. Awalnya Jehan ragu untuk memfokuskan diri pada desain pakaian muslimah apalagi untuk anak muda, karena saat itu, jilbab identik dengan ibu ibu. Seiring berjalannya waktu, Jehan pun mantap terjun ke fashion muslimah dengan gaya yang unik bagi muslimah muda.

Karya karya Jehan ditampilkan dan dijual di blognya jenahara-shop.blogspot.com dan jenahara.com, sehingga pasarnya sangat luas dari seluruh Indonesia. Kini Jehan memiliki berbagai butik di Jakarta, Cirebon, Surabaya, Samarinda, Padang, Makassar, bahkan sampai Malaysia dan Singapura. Tidak hanya di tanah air, karya kaya Jehan diapresiasi di Hongkong Fashion Week 2012, menjadi satu satunya busana muslimah yang ditampilkan di sana. Fashion muslimah tanah ai kini dikenal internasional, membawa wajah Islam yang semakin dapat diterima masyarakat.





 

0 komentar:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Blogger templates

 
;