Wednesday, August 27, 2014 0 komentar

Payabo

Minggu pagi, mentari masih hangat di ufuk timur. Aku menikmati tetesan kopi hitam sisa tadi malam, rokok putih ku sulut menghamburkan asap halus memenuhi ruang kamar, mataku menerawang dunia melalui jendela kayu kamar, aku masih mencoba untuk menyatukan dunia mimpi dan dunia nyata. Setelah beberapa saat, aku berhasil menyatukan mereka, dan.. pagi ini ternyata ada beberapa rencana yang ku abaikan, lari pagi bersama kawan, menonton latihan dayung dan beberapa rencana yang semalam tampak sangat penting. 

Aku menggapai telepon genggam, delapan panggilan tak terjawab, tiga pesan singkat, semua dari kawanku. Aku berbaring kembali di atas kasur kapuk dengan seprei motif klub sepakbola yang entah mengapa bisa menyatu dengan kasur kesayanganku. Asap rokok kembali berhembus kencang, aku menelepon kawanku, ingin menanyakan keberadaannya. Namun, tak satupun menjawab panggilan ku.

Aku kembali terlelap...

Sore, dua orang kawan datang berkunjung, menceritakan beberapa kisah yang biasa dan terdengar tanpa makna. Mereka adalah kawanku semasa duduk di bangku sekolah menengah, mereka mengajak ku keluar menjelajahi dunia. Entah apa lagi yang akan kami bertiga lakukan setelah seminggu lalu kami menghabiskan minggu sore sebagai tukang parkir dadakan, ya tukang parkir dadakan. Kami bertiga memang sering melakukan hal hal yang menurut logika orang waras dan berpendidikan dianggap sebagai kegiatan yang tidak umum, aneh, memalukan, menjijikan, kotor, kampungan dsb. Tetapi aku menikmatinya, meski pada awalnya ada sedikit rasa malu, saat menjelma menjadi tukang parkir kemarin, aku menutup wajah dengan menggunakan masker anti debu dan membungkus kepala dengan helm tertutup. 

Ada tantangan di sana, ada kekuatan yang berhembus, hormon adrenalin menyebar di seluruh pembuluh darah. Aku menikmati, bukan karena akan mendapatkan uang dari sana, tetapi entah mengapa, aku menikmati. Mereka berdua duduk di halaman rumahku, masih bercerita tanpa kejelasan makna, aku membuatkan minuman dan membeli gorengan. Aku duduk memanjangkan kaki, bergelut dengan telepon genggam meski aku tidak menerima telepon atau pesan singkat, masih ditemani ocehan mereka.

"Kita kemana sore ini? apa lagi yang enaknya kita lakukan?"

Salah seorang dari kawanku memecah keramaian yang diciptakannya sendiri..

"Sore ini kita jadi payabo.." tutup ku, lalu meninggalkan mereka masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian.

Payabo dalam bahasa tempatku adalah sebutan bagi seorang pumulung, berasal dari kata boya yang artinya mencari, kemudian di plesetkan menjadi yabo, jadilah payabo yang artinya pemulung. Pemulung sampah, pemulung botol bekas, pemulung kertas bekas dan pemulung apa saja asal bisa ditukar dengan lembaran rupiah.

Malam beranjak, kami menyusuri sisi jalan protokol kota, target kami adalah kemasan plastik sisa air mineral, baik dalam bentuk gelas maupun botolan. Info yang kami dapatkan, jika sampah plastik tersebut di jual dan ditimbang, perkilonya berharga Rp. 2000. Sebelumnya kami membeli karung besar dengan harga Rp. 3000. Cukup banyak sampah botol yang kami dapatkan, lalu lalang kendaraan roda dua dan empat tak memperdulikan kami, mereka acuh, fokus pada tujuan masing masing. 

"Kita ke terminal, di sana lebih banyak botol bekas air mineral.."

Kami ke terminal, malam semakin larut menyisakan senyap yang menuntun kami bertiga. Seorang perempuan tua mengamati kami dari jauh, perlahan ia mendekat dan menanyakan maksud kami, entah apa tujuan sebenarnya ia bertanya, bukan kah ia sudah melihat dengan mata sendiri bahwa kami sedang memulung?

"Apa yang kalian lakukan??"
"Kami sedang memulung"
hening...

"Kalian sebenarnya sedang ngapain?"
"Kami mengumpulkan botol bekas untuk di jual"
hening..

"Lalu mengapa kalian bisa di terminal ini?

"Sebenarnya kami mengumpulkan botol bekas untuk bahan pada saat lomba 17 Agustus nanti.." 
"Oh begitu yah.."

Perempuan tua pergi, kami kembali menyusuri setiap sudut terminal, memungut botol plastik bekas dan memasukkannya ke dalam karung. Seluruh tempat sampah yang ada di terminal kami jelajahi. 

Pukul 12 malam, karung yang kami bawa terisi penuh, sesegera mungkin kami membawanya ke tempat penimbangan barang bekas yang buka selama dua puluh empat jam, entah mengapa tempat tersebut buka 24 jam, mungkin ia ingin bisnisnya cepat mencapai BEP (break even point) sehinggan gencar mengejar target.

"Ini hanya 3 kilo saja"

Aku mengacuhkan perkataan pria tua penimbang barang bekas, timbangan ku perhatikan dengan seksama

"4 kilo pak.."

Pria tua hanya diam, merogoh saku celana dan mengeluarkan lembaran uang lusuh..

"Ini, delapan ribu..."
"Terima kasih..."

Aku kembali menyusuri jalan protokol, uang hasil memulung kami belikan air mineral gelas dan beberapa potong pisang goreng. Kami bertiga menghabiskan malam di tepi pantai di tengah kota yang tampaknya tak pernah sepi oleh manusia. Aku menatap lautan yang kemilau di terpa rembulan berbentuk sabit. Hembusan angin ku biarkan menerpan tubuh ku yang sedikit basah oleh tetesan keringat, terasa sejuk.

Kami kembali mengobrol tanpa makna, terkadang terbahak memecah malam. Lalu lalang muda mudi terlihat bagai ombak di tengah lautan, menari, meliuk, menghempas daratan. Mataku tanpa kantuk, besok.. pagi pagi sekali, aku akan kembali menjadi manusia, manusia normal yang bekerja dengan pekerjaan yang diakui oleh manusia. Besok aku akan kembali terlihat dimana mana, berpakaian rapi, bersepatu kulit, terkadang berdasi. 

Pemulung tak di hargai, mereka tak terlihat sebagai manusia, mereka sampah, meski sebenarnya mereka bukan sampah, mereka hanya memungut sampah, membersihkan kota, pekerjaan mereka bersih dan membersihkan. Aku hanya ingin merasakan seperti apa mereka, kemudian menghargai mereka sebagai seorang manusia, aku bukan manusia robot kapitalis, hedonis, angkuh, sombong, aku adalah manusia yang mencoba menghargai sesama manusia. Mengapa kita harus terkotak kotak karena profesi? 

Hari ini ku akhiri, rokok ku hembuskan kencang melawan desiran angin laut, mereka beradu. Aku terpejam beberapa detik, sejenak memikirkan aku ini akan menjadi apa... lagi....

(Makassar, Agustus 2014)


Monday, August 18, 2014 0 komentar

Anak Nakal Modernisasi

Anak nakal? siapakah anak nakal itu? atau apakah yang di maksud dengan anak nakal?. Adakah diantara kita yang merupakan anak nakal dari kedua orang tuanya?. Anak nakal di kalangan masyarakat Indonesia merupakan anak yang lain dari anak pada umumnya, ia keluar dari norma dan hukum yang berlaku di masyarakat, ia berbeda dari anak lainnya. Anak nakal adalah anak yang bengal dan enggan menuruti perintah orang tua atau keluarga.

Bagaimana seorang anak nakal yang notabene tidak disukai dan diharapkan bisa lahir ke dunia ini? apa mereka terlahir begitu saja? bukankah di dunia ini tak ada yang menyukai anak nakal?. Bahkan anak nakal itu tentunya secara hati nurani tak menginginkan dirinya mnjadi nakal?.

Ada dua alasan mengapa anak bisa menjadi nakal menurut penulis, yang pertama karena faktor genetika, orang tuanya juga nakal, bapak nya dahulu atau sampai sekarang masih nakal, ibunya nakal. Sehingga mereka mewarisi sifat nakal. Kemudian faktor yang kedua adalah karena lingkungan yang mengajak atau memaksanya untuk menjadi nakal. Faktor yang pertama tak perlu dibahas dan risaukan, yang terpenting adalah faktor lingkungan mengapa si anak bisa menjadi nakal.

Anak nakal terkadang merugikan orang lain, baik secara psikis, moral atau materi. Ada banyak anak yang berlabel nakal, mereka hidup dan menunjukkan eksistensinya di tengah tengah masyarakat. Baik secara perseorangan maupun berkelompok, contoh saja aksi kelompok geng motor yang dewasa ini mencengkram dan mengguncangkan hampir seluruh kota besar yang ada di Indonesia. Di Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Makassar dll hampir setiap hari mengabarkan tentang kenakalan anak muda berlabel geng motor.
Mengapa ada geng motor? lingkungan apa yang bisa mendorong lahirnya fenomena geng motor? Tentu kita dengan cepat menyimpulkan bahwa anggota geng motor adalah sekumpulan anak yang dikelilingi oleh orang orang negatif, penjahat, pemberontak, anak putus sekolah, tidak berpendidikan, pergaulannya buruk, tapi pernahkah kita sejenak meluangkan waktu bergaul dan beradaptasi dengan mereka? menjelajahi apa yang sebenarnya mendorong mereka untuk bergabung/membentuk geng motor?

Pernahkah terlintas di benak seluruh masyarakat Indonesia bahwa mereka tidak mutlak lahir dari lingkungan yang buruk tetapi diakibatkan justru karena lingkungan positif mereka telah direnggut. Ya, lingkungan positif tempat mereka seharusnya bisa melakukan hal hal baik telah di rampas, telah di ambil, telah di kuasai sehingga mereka tidak berdaya secara tidak sadar.

Lapangan bermain, berapa jumlah lapangan bermain dalam satu kecamatan di kota besar? satu? dua? Tidak.. dalam satu kota besar terkadang hanya ada satu lapangan bermain untuk anak anak. Lapangan bermain berubah menjadi tembok tembok beton, mall, hotel, rumah sakit mewah, perumahan elit dll. Mereka anak anak baru gede yang seharusnya bisa bermain sepak bola setiap sore, voly, mengikuti perayaan lomba 17 Agustus, atau sekedar berlarian mengeluarkan keringat terpaksa harus gigit jari, duduk terpaku menyembah modernisasi. Hormon anak muda yang menggebu gebu dimana sewajarnya dapat tersalurkan melalui olahraga, seni dan kegiatan kreatif lainnya harus meledak tanpa arah dan teraktualisasi salah satunya melalui pembentukan geng motor.

Sepele memang, sangat sepele, namun dampaknya serius, lapangan bermain terkait dengan kenakalan remaja. Kita semua silahkan menutup mata, pemerintah silahkan terus menangkap dan memberantas geng motor, silahkan menutup mata atas faktor sepele ini, karena memang tak ada solusi, saya pun tak tahu apa solusinya. Melarang pemerintah dan pengusaha untuk bersekongkol melebarkan sayap bisnis? Berteriak teriak orasi di jalanan agar memperhatikan kepentingan rakyat ketimbang terus mengeruk tanah dan menancapkan beton pondasi? sebuah usaha yang sia sia dan tidak masuk akal.

Yang bisa kita lakukan hanya menyadari salah satu penyebab mengapa mereka semua bisa menjadi nakal, kemudian merenung. Mereka pun mungkin tidak sadar bahwa mereka menjadi nakal diakibatkan karena kegiatan kegiatan positif khas anak kecil yang seharusnya menjadi hak mereka kini telah direnggut. Penangkapan dan penjeblosan ke sel tahanan kepada remaja geng motor memang sebuah langkah yang dibenarkan di dalam sebuah negara yang berlandaskan hukum, namun alangkah bijaknya jika suatu kasus di selesaikan dengan memangkas akar masalahnya, kemudian duduk bersama, bermusyawarah dan mencari solusi.


Salam, 
Wednesday, March 5, 2014 0 komentar

Politik Caleg

Di kalangan masyarakat, menurut mereka ada beberapa caleg yang hanya menipu, PHP (Pemberi Harapan Palsu), menawarkan janji janji surgawi. Tetapi setelah terpilih, mereka lenyap, sirna, meninggalkan janji..

Di kalangan caleg, menurut mereka ternyata ada juga masyarakat (calon pemilih) yang juga menipu, PHP. Mereka selalu setia mendampingi caleg, menerima amplop tebal setiap pertemuan dan transfer uang sebelum hari H pemilu.. namun, saat hari H, mereka memilih golput dan tidak merekomendasikan caleg kepada siapapun..

Namun, politik bukan sekedar tipu menipu.. toh, masih ada sebagian masyarakat yang menganggap politik itu suci, putih, bersih, hanya warna bendera yang kerap menodainya.. kelompok yang ketiga ini mungkin saja caleg yang bersih dan calon pemilih yang tulus, tetapi..

Faktanya, caleg bersih selalu kalah, dan pemilih tulus selalu tidak mendapatkan apa apa..

Saya sendiri menganggap politik itu sebuah tontonan, saya penonton dari sebuah pertunjukan para penipu, meski terkadang saya pun merasa sebagai penipu.. karena tak benar benar menonton...
Saturday, March 1, 2014 0 komentar

The Power of Mesjid


 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Indonesia adalah negara raksasa (dalam konteks luas wilayah) yang dihuni oleh mayoritas penduduk yang beragama Islam. Ada kurang lebih 150 juta masyarakatnya beragama Islam, bahkan Indonesia sampai detik ini masih tercatat sebagai negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Dengan predikat tersebut, otomatis jumlah mesjid sebagai tempat ibadah umat Muslim sangat banyak bertebaran dari Sabang sampai Merauke. Jumlahnya mungkin sampai ratusan ribu bahkan jutaan.

Tulisan ini lahir dari pemikiran spontan penulis saat sedang melaksanakan sholat Jumat di salah satu mesjid terbesar yang ada di kota penulis. Tulisan ini bukan karya ilmiah yang lahir dari penelitian panjang dan berdasar pada kajian tentang ayat ayat suci Al Quran dan Al Hadist. Tulisan ini hanya buah dari pemikiran hamba Allah yang datang secara tiba tiba dan dituangkan dalam bentuk tulisan. Jika terdapat kesalahan mohon kiranya untuk segera dikritik dan penulis sebelumnya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Siang itu, penulis melaksanakan salah satu kewajiban umat Muslim yaitu shalat Jumat berjamaah. Salah seorang teman mengajak untuk shalat di mesjid yang lokasinya sangat jauh dari rumah. Meskipun begitu, jarak yang cukup jauh berganti dengan kekaguman karena mesjid ini sangat megah dengan desain arsitektur yang mewah dan gemerlap. Mesjid ini adalah mesjid terbesar yang ada di kota penulis, bahkan konon katanya mesjid ini adalah yang terbesar di Indonesia bagian timur.

 Mesjid ini dibangun dari mimpi seorang jenderal besar tanah air yang merupakan putera daerah untuk membangun sebuah Islamic Center terbesar dan terlengkap di kota kelahirannya. Penulis secara pribadi, sangat mengagumi sosok jenderal besar ini, meski tak pernah melihat sosok beliau secara langsung. Selain turut andil dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, beliau juga sosok yang religius dan dermawan. Menurut cerita cerita kawan dan keluarga, saat beliau wafat, seluruh kota di guyur hujan deras selama kurang lebih setengah jam, padahal saat itu sedang musim kemarau, mungkin bumi pun berduka dengan kepergiannya. Saat itu penulis masih duduk di bangku sekolah menengah pertama di kota lain.

Lantai dan dinding mesjid tersebut terbuat marmer hitam yang mengkilap, bangunannya menjulang tinggi, membuat penulis semakin tampak kecil. Terdapat ukiran kaligrafi yang terbuat dari kayu jati di sudut sudut dinding mesjid. Setelah melakukan shalat tahiyatul mesjid, penulis duduk bersama jemaah lain. Di shaf terdepan, kami temui beberapa pejabat daerah dan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh politik yang wajahnya tampak tidak asing. Kami menanti da’i untuk memberikan tauziyah agama. Sebelum memulai ceramah, sudah menjadi kebiasaan dilakukan oleh pengurus mesjid untuk memaparkan laporan keuangan mesjid yang bersumber dari  donatur jemaah selama seminggu. Pengurus mesjid melaporkan berapa pemasukan yang diperoleh dan berapa pengeluaran, serta untuk digunakan untuk apa pengeluaran tersebut.

Laporan ini untuk sebagai suatu bukti bahwa pengurus mesjid bersifat transparan kepada para donatur yang telah mengeluarkan dananya. Tentulah para donatur berharap dana yang telah mereka sedekahkan akan digunakan untuk hal hal yang berkaitan dengan dakwah dan perjuangan di jalan Allah swt. Penulis duduk pada shaf tengah yang telah dipenuhi oleh jemaah lain, salah seorang pengurus mesjid berdiri di samping mimbar dan mulai membacakan laporan keuangan mesjid.

Penulis agak tersentak kaget ketika pengurus mesjid membacakan jumlah saldo keuangan mesjid yang angkanya sangat spektakuler, nyaris menyentuh angka milyaran rupiah. Itu adalah angka saldo keseluruhan, sedangkan saldo untuk minggu ini berjumlah puluhan juta rupiah. Penulis yang selama ini kurang memperhatikan laporan pengurus mesjid jika sedang membaca laporan kas berbisik kepada kawan yang duduk di samping, menyatakan kekaguman sekaligus keterkejutan. 

         Menurut kawan tersebut, hal itu wajar wajar saja, karena para donatur bukan hanya berasal dari kalangan menengah kebawah, banyak pejabat daerah dan tokoh pengusaha yang menjadi donatur. Jika mereka menyumbang tentulah tidak dengan jumlah recehan seperti halnya penulis yang memasukkan uang ke celengan mesjid paling  tinggi hanya dua puluh ribu rupiah, itupun hanya sekali selama hidup, hehee, selebihnya hanya lima ribu, sepuluh ribu, kebanyakan dua ribu rupiah, hahahaa…

Namun, ada yang satu hal yang mengusik perhatian penulis, yaitu saat pengurus mesjid membacakan info tentang pengeluaran dana untuk upah penceramah. Di infokan bahwa jumlah upah dari seorang penceramah adalah dua juta rupiah untuk sekali naik ke atas mimbar, waktunya tidak sampai setengah jam, itu hanya untuk penceramah pada saat shalat Jumat, belum untuk penceramah lainnya. Apakah itu jumlah yang cukup besar? atau normal normal saja? Tergantung… Jika kita bandingkan dengan nominal saldo mesjid secara keseluruhan, jelas itu adalah nominal angka yang sangat kecil, namun jika membicarakan tentang uang dua juta rupiah dalam kacamata masyarakat kelas bawah, itu adalah angka yang fantastis.

Mengenai upah da’i penceramah yang tarif nya seringkali berharga selangit, penulis jujur agak risih, mohon maaf jika lancang. Menurut penulis, penceramah agama itu bukanlah sebuah profesi, tetapi sebuah jihad kepada Allah untuk menyebarkan kebenaran dan wahyu Allah swt. Da’i atau ustadz adalah wali Allah di dunia sepeninggal nabi dan para rasul. Wajar memang jika ustadz di upah, toh mereka juga seorang manusia, mereka punya keluarga, isteri, anak anak, tetapi apakah wajar jika kemudian mereka memasang tarif? kemudian menolak sebuah mesjid yang memberi upah di bawah standar yang mereka berikan?? Apakah telah banyak di negara ini ustadz ustadz tenar yang bermegah megahan dengan kekayaan, rumah dan mobil mewah sementara umat masih hidup dalam kemiskinan? Jika niatnya menjadi kaya dunia, jadilah seorang pengusaha, jangan menjual ayat ayat Allah hanya untuk menumpuk materi dan melupakan bahwa ustadz itu adalah orang orang yang suci dan tulus kepada Allah swt dunia akhirat.

Penulis mendengarkan ceramah, namun pikiran terus menerawang kemana mana, ternyata bukan hanya di mesjid ini, setelah berkeliling mesjid yang ada di kota tempat tinggal penulis, ternyata hampir semua mesjid memiliki jumlah saldo yang cukup besar, rata rata mesjid besar saldonya mencapai ratusan juta rupiah. Bagaimana dengan jumlah uang yang cukup besar tersebut mesjid turut berpartisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang masih miskin? Bukankah itu juga termasuk memperjuangkan agama di jalan Allah swt? Penulis berdiskusi ke beberapa kawan, dan mereka berkesimpulan bahwa rakyat Indonesia yang masih miskin ini bukan ruang lingkup mesjid, tetapi merupakan tanggung jawab negara dalam hal ini pemerintah.

Sangat benar dan masuk akal karena sesuai undang undang, negaralah yang memainkan peran dalam memakmurkan rakyatnya, negara berkewajiban melindungi dan melayani kebutuhan dasar bagi rakyatnya. Sumber keuangannya dari pajak yang dipungut dan sumber sumber keuangan lainnya seperti eksplorasi kekayaan alam dan investasi. Yang menjadi permasalahan adalah sudah benarkah pemerintah kita dalam menjalankan kewajibannya? Jawabannya adalah belum, karena yang terjadi adalah manajemen kas negara tidak tepat dan efektif, banyak pengeluaran negara yang semestinya digunakan untuk kepentingan rakyat justru dihabiskan oleh kepentingan kepentingan yang memang tidak penting dan lebih bersifat individualistik maupun golongan.

Indonesia negara kaya dengan hasil alam yang melimpah, pajak tinggi, namun pemborosan juga tinggi. Pelunasan utang negara (yang konon sudah tak mungkin lagi untuk dilunasi), koruptor merajalela, mafia proyek bertebaran, pegawai negeri sipil yang kerja nya tidak jelas sangat banyak jumlahnya, gaji dan tunjangan anggota dewan cukup besar, upah studi banding para pejabat mencapai triliunan rupiah dll. Pemborosan dan penyimpangan tersebut diatas sangat menguras kas negara, dana yang digunakan untuk kepentingan rakyat hanya sisa sisa apabila pemborosan pemborosan tersebut telah selesai dilakukan. Jadi keuangan negara sebenarnya tidak sepenuhnya digunakan untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan rakyat.

Toh, tak ada yang mampu merubah semua itu, tak ada yang mampu memberontak pada pemimpin kita yang sudah rusak dan bobrok ini. Meski tampak beberapa orang yang terlihat idealis memperjuangkan kebenaran, tapi pada akhirnya mereka sendiri terjebak dalam pusaran ketidakbenaran. Para aktivis mahasiswa misalnya, saat masih kuliah mereka terlihat bak seorang pejuang rakyat, mereka berada di garda terdepan pada medan pertempuran ketika melawan kejahatan, tetapi saat telah selesai kuliah, suara mereka hilang. Beberapa tahun kemudian, wajah wajah mereka memenuhi sudut sudut kota, wajah gagah mereka memenuhi tiang tiang listrik, pohon, jalanan dan sebagainya, mereka mencalonkan diri menjadi wakil rakyat yang penuh dengan janji janji surgawi.

Beberapa tahun lagi setelah itu, wajah mereka kembali menghiasi televisi televisi, koran dan portal berita online karena terbukti melakukan kejahatan seperti korupsi dan mafia proyek. Sang pembela kebenaran menjadi aktor ketidakbenaran itu sendiri. Seperti itu terjadi terus, bak sebuah putaran roda yang tiada akhir dan letihnya.

Sampai kapan rakyat miskin mendapatkan haknya untuk hidup layak jika terus seperti ini, miskin tambah miskin dan kaya tambah kaya. Setelah melakukan shalat Jumat kemarin saya seperti menemukan sebuah kekuatan dan cahaya baru yang sepertinya mampu menerangi negara yang gelap ini. Kekuatan memang bukan melulu tentang uang yang melimpah, akan tetapi setidaknya uang bak sebuah bahan bakar yang dapat menimbulkan cahaya sebagai penerang. Dan kekuatan tersebut terdapat pada mesjid!. Mesjid punya kekuatan yang maha dahsyat jika dikelola dengan benar dan modern, mesjid bisa menjadi solusi dari permasalahan bangsa, meski tidak menjadi kewajiban mutlak karena kewajiban tetap ada pada pundak negara, tetapi setidaknya mesjid turut berperan pada kehidupan sosial masyarakat. Ada pepatah mengatakan “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin”. Pun, Allah swt memerintahkan kebaikan antar sesama umat manusia, habblum minannas, habblum minnallah (baik sesama manusia dan baik kepada Allah swt).

Lalu bagaimana peran mesjid yang dimaksudkan? Jadi, saldo keuangan mesjid mesjid besar yang jumlahnya mencapai ratusan juta itu hendaknya tidak melulu hanya digunakan untuk kemakmuran mesjid, upah penceramah yang selangit, tetapi juga digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dari umat, minimal yang berada di sekitar lokasi mesjid. Penulis memiliki ide bagaimana jika pengurus mesjid dan beberapa donatur tetap mencanangkan program yang bernama “Jihad Berantas Kebodohan”. Jadi dengan program ini, mesjid setiap dua atau tiga tahun sekali memilih dan memilah anak anak putus sekolah yang disebabkan ketidakmampuan biaya untuk kembali bersekolah dengan biaya yang ditanggung dengan menggunakan kas mesjid. Cukup satu anak saja setiap dua tahun atau tiga tahun sekali.

Jadi, anak yang terpilih disekolahkan, baik di pesantren maupun sekolah umum, kalau bisa sampai tingkat sekolah menengah atas. Penulis mengkalkulasi jika dana yang terkumpul di mesjid yang setiap minggunya mencapai puluhan juta itu sangat cukup bahkan masih tersisa sangat banyak jika hanya digunakan untuk uang sekolah dan peralatan sekolah dari anak tersebut. Bayangkan jika program ini terwujud, jumlah mesjid di satu kota hitunglah sekitar 200 buah, maka ada 200 anak putus sekolah yang bisa diselamatkan masa depannya.

Kemudian program yang kedua adalah “Jihad Memberantas Kemiskinan”. Program ini lebih fokus pada peningkatan ekonomi rakyat. Jadi, pengurus mesjid memilah dan memilih masyarakat sekitar mesjid yang mana kiranya hidup dalam kondisi ekonomi memperihatinkan (melarat.com). Masyarakat yang terpilih akan diberi modal usaha dan pelatihan kewirausahaan, tidak perlu modal besar, mungkin dengan modal sebesar Rp 6-7 juta itu sudah bisa membuat kios, warung makan atau usaha lainnya. Nah, untuk program ini, pihak mesjid dapat memberi modal usaha dalam bentuk kredit, di angsur perbulan tanpa jaminan dan tanpa bunga. Jika seperti itu, tak ada pihak yang dirugikan. Program ini bisa dilakukan setahun sekali dan tentu saja selama menjalankan usaha tersebut, masyarakat yang terpilih harus terus di dampingi dan diberi pelatihan agar tidak bangkrut atau gulung tikar.

Jika program kedua ini terwujud, maka kedepannya ekonomi rakyat perlahan akan menjadi kuat dan mandiri. Dengan kuatnya ekonomi dan semakin berkurangnya angka anak yang putus sekolah, tentu akan berdampak positif terhadap sektor sektor lainnya, termasuk mengurangi jumlah kejahatan, maksiat, dan hal hal negatif lainnya yang menjadi musuh agama.

Yang perlu digaris bawahi adalah, mesjid jangan seperti negara Indonesia yang tidak mampu mengatur kas keuangannya untuk sesuatu yang positif, mesjid jangan hanya dibangun secara fisik, bermegah megahan, berlantai permata, berkubah emas, namun melupakan hakekat pembangunan mesjid yaitu tempat beribadah kepada Allah swt. Bukankah Allah swt sendiri melarang makhluk-Nya untuk berbuat yang berlebihan??

”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah dan jangan belebih lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berlebihan” (QS. Al A’raaf ayat 31).

Di akhir tulisan, penulis kembali memohon maaf apabila ada pihak yang merasa tulisan ini tidak layak atau menyalahi norma norma agama. Penulis hanya melontarkan pemikiran spontan tanpa mengandung maksud apa apa. Kritik dapat dikirim melalui email penulis di wishnu.mahendra777@gmail.com. Terima kasih dan Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Blogger templates

Cloap Program Affiliasi - Cara Mudah cari uang
 
;